Wanita Ja’zhariyah (sombong dan kasar)
Bismillahirrahmanirrahim
Banda Aceh, 27 Muharram 1433 H
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang ja’zhari (sombong lagi kasar), jawwazh ( yang banyak makan dan pelit ), sakhkhab ( yang suka berteriak-teriak di pasar ), yang tidur seperti bangkai pada malam hari, dan yang ( laksana ) keledai pada siang hari.” HR Ibnu Hibban*
*( Hadist shahih di-takhrij-kan oleh Ibnu Hibban (1/145) dgn nomor: 1957, Baihaqi (10/194) dalam kitabnya Sunan Al Kubra melalui jalur Abdur-Razzaq dari Abdullah bin Sa’id bin Abi Hindun dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a. Juga di-takhrij-kan oleh Abu Bakar bin Laal dalam Makarim Al Akhlak sebagaimana disebutkan oleh Al Hafaih Al Iraqi dalam Al Mughniy (2/46)
wanita ja’zhariyah adalah wanita yang berahlak buruk, pembenci, dan marah – marah di waktu makan. Dia adalah wanita yang sombong dan membanggakan dirinya. Dia juga wanita yang keras dan kasar, gemuk karena cinta kemewahan, dan banyak makannya.
Ahli bahasa arab menuturkan bahwa ja’zhari berarti ‘keras, kasar dan sombong’ . Juga dikatakan sebagai orang yang mengisi dirinya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya atau orang yang pendek, gemuk, sombong dan enggan menerima nasihat. Makna lainnya adalah orang yang tinggi badannya karena banyak makannya lagi congkak.
Dari keterangan diatas, kita dapat mengetahui bahwa sifat dan amal yang dibenci pertama kali oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah takabur “sombong”.
Orang yang sombong adalah mahluk yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala. Dengan kesombongan yang dimilikinya dia hidup dalam lingkungan amalan yang paling dibenci.
Allah Ta’ala sangat mencela orang-orang yang sombong. Allah Ta’ala juga menyatakan bahwa orang yang sombong tidak akan sampai pada pengenalan terhadap ayat-ayatNya dan pikirannya tidak dapat sampai pada perenungan dan tafakur atas rangkaian makna ayat – ayat tersebut. Hal itu dinyatakan oleh Allah Ta’ala,
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku…” ( Al A’raf (7) : 146 )
Adapun makna ayat tersebut adalah, “Aku ( Allah ) akan mencegah mereka memahami berbagai hujjah dan argumentasi serta dalil – dalil yang emnunjukkan keagunganKu dan untuk mengerti akan syari’at dan hukum – hukum Ku karena kesombongan hatinya terhadapat ketaatan kepadaKu dan kecongkakannya kepada manusia tanpa hak. kosombongan mereka tanpa alasan yang benar ( tanpa haq ), maka Allah menghinadinakan mereka dengan kebodohan (yang diberikan)!”*
*Tafsir Ibnu Katsir ( 2/247 )
seorang salafusshaleh pernah bertutur, “Tidaklah akan mendapatkan ilmu, orang pemalu dan orang yang sombong!”
Sufyan bin ‘Uyaynah menafsirkan, “Aku akan mencabut dari mereka pemahamanterhadap al-Qur’an dan Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayatKu”
(ath-Thåbariy XIII/112)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat Sufyan ini menunjukkan bahwa khithah (arahan) ayat ini ditujukan terhadap umat ini (Umat Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam).
(ath-Thåbariy XIII/113)
Aku (Ibnu Katsiyr) berkata: Tidak mesti begitu, Karena (Sufyan) Ibnu ‘Uyaynah hanyalah bermaksud bahwa ini berlaku UMUM untuk SETIAP UMAT. Tidak ada perbedaan antara umat yang satu dengan umat yang lainnya, Wallåhu a’lam.
wanita yang sombong, sebenarnya melakukan amal perbuatan orang – orang kafir dan orang – orang jahat serta meninggalkan sifat tawadhu yang merupakan akhlak para Nabi dan orang – orang shaleh karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyifati orang – orang kafir dengan kesombongannya, sebagaimana firman Nya,
“sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’ ( tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah ),’ mereka menyombongkan diri.” ( Ash Shaffat:35 )
” Dan Hamba – hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati … ” (Al Furqan : 63 )
Bahkan Allah Azza wa Jalla menyuruh Nabi Nya agar bersikap tawadhu kepada orang-orang yang beriman melalui firman Nya,
“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang – orang yang beriman.” ( Al Hijr :88 )
Maka, jelaslah bahwa wanita yang sombong itu memiliki sifat orang-orang kafir karena kibriya’ kesombongan itu hakikatnya hanyalah milik Allah Ta’ala’. Dengan demikian, tidak layak bagi seorang muslimah untuk sombong terhadap RabbNya sebagai Khaliqnya. Diapun harus bersikap tawadhu kepada saudaranya yang terdiri atas wanita – wanita muslimah.
Karena kibr ‘sombong’ itu merupakan amal yang paling dibenci Allah Azza wa Jalla, orang yang memiliki sifat itu akan menjadi , bahan bakar api neraka sebagaimana telah disebutkan oleh Nabi SAW. dalam sabdanya,
“Tiadakah kamu aku beritahu tentang sifat penghuni neraka?” Abu Hurairah r.a. menyahut, ” Tentu, wahai Rasulullah” Rasul bertutur,” yaitu , setiap ja’zhari ( yang sombong lagi keras ), yang banyak makan lagi pelit dan sombong / congkak.” Abu Hurairah r.a. berujar, ” Kami bertanya kepada beliau, apakah yang dimaksud dengan ja’zhari? Beliau menjawab, ‘yang membaggakan diri.’ aku kembali bertanya, ” Dan apakah yang dimaksud dengan jawwazh (yang banyak makan lagi pelit) itu?” Beliau menjawab, ” yaitu yang gemuknya berlebihan.”*
*Hadist shahih di-takhrij-kan oleh Ahmad (2/369) dan (2/508) dari hadist Abi Hurairah r.a , sedangkan sanadnya adalah dhaif, tetapi ia memiliki syahid dari hadist haritsah bin Wahab yang di-takhrij-kan oleh Bukhari r.a (4918), Muslim (2853), Ahmad (4/306), Tirmidzi (2732) dan oleh Ibnu Majah (4/116). Ia juga puna syahid dari hadist Ibnu Amar yang di-takhrij-kan oleh Ahmad (4/169) dan dari hadist Suraqah bin Malik yang di-takhrij-kan oleh Ahmad (4/175) dan oleh Thabrani dalam Mu’jam al Kabir (6589)
Pada hakikatnya, wanita yang sombong mengangkat dirinya melebihi kedudukan yang sebenarnya karena mereka melupakan asal kejadiannya. Wanita yang sombong mengira bahwa dirinya lebih baik dan lebih hebat daripada kawan kawannya. Mereka melupakan Nutfah (airmani) yang darinya mereka diciptakan. Mereka melupakan tetes – tetes air yang hina yang menjadikan asal dijadikannya. Sebaiknya, mereka mau memikirkan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang diakibatkan oleh kesombongan itu,
Kaitannya dengan makna ini lah, Imam Mathraf bin Abdullah mengisyaratkan hal itu saat dia bertutur kepada Yazid Ibnu Muhallab yang tampil begitu sombongnya mengenakan jubah dari sutra. Mathraf berkata ” inilah penampilan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul Nya.” Al Muhallab menyahut, “bukankah kamu mengenal aku?” ” Ya, aku mengenalmu. asalmu adalah setetes nutfah ( airmani ) yang amat hina dan kamu akan berakhir menjadi bangkai yang busuk sedangkan selama hidupmu kamu membawa kotoran ( yang disimpan di perut ). Maka Al Muhallab pun sadar dan kembali berjalan seperti biasa ( meninggalkan kesombongannya ).
Hello world!
Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.
Here are some suggestions for your first post.
- You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
- Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting page you read on the web.
- Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.